Bandarlampung - Ketua Gamolan Institute Lampung (GIL), Novellia Yulistin Sanggem turut angkat bicara terkait fenomena pelecehan terhadap salah satu penutup kepala khas Lampung Hanuang Bani.
Anak Adat Megou Pak Tulang Bawang itu mengatakan ucapan Seno Aji yang mengatakan Hanuang Bani seperti jin penyabut nyawa memang tidak bisa dibenarkan.
Dikatakannya, Etika, tata krama sopan dan santun bagian dari adat budaya harus dijunjung tinggi.
"Karena ketika kita beradat maka kita beradab. Seno aji harus diajarkan tentang adat budaya, diajarkan etika tata Krama dengan cara yang beradab karena kita orang adat, " ungkapnya, Kamis (12/7).
Menurutnya, Sangsi adat adalah sangsi sosial, ada yang dengan denda adat, ada dengan dikucilkan, atau sesuai dengan kesalahan yang diperbuat.
"Seno aji di dalam media memang sudah meminta maaf, tapi reaksi dari beberapa masyarakat Lampung belum mereda. Dan sebaiknya Seno aji menggunakan cara adat untuk minta maaf, lalu kita sebagai masyarakat adat, sebagai saudara sudah sepatutnya saling memaafkan, jadikan seorang Seno aji dan lainnya diberi pelajaran dengan cara memberikan pendidikan adat agar ia mencintai adat budaya Lampung. Dimana langit dipijak disitu langit dijunjung," paparnya.
"Ketika sudah saling memaafkan, menjadi saudara, dan membuat orang yg tidak mengerti adat dan tidak mencintai adat akhirnya menjunjung adat budaya Lampung, " tutupnya. (*).
Anak Adat Megou Pak Tulang Bawang itu mengatakan ucapan Seno Aji yang mengatakan Hanuang Bani seperti jin penyabut nyawa memang tidak bisa dibenarkan.
Dikatakannya, Etika, tata krama sopan dan santun bagian dari adat budaya harus dijunjung tinggi.
"Karena ketika kita beradat maka kita beradab. Seno aji harus diajarkan tentang adat budaya, diajarkan etika tata Krama dengan cara yang beradab karena kita orang adat, " ungkapnya, Kamis (12/7).
Menurutnya, Sangsi adat adalah sangsi sosial, ada yang dengan denda adat, ada dengan dikucilkan, atau sesuai dengan kesalahan yang diperbuat.
"Seno aji di dalam media memang sudah meminta maaf, tapi reaksi dari beberapa masyarakat Lampung belum mereda. Dan sebaiknya Seno aji menggunakan cara adat untuk minta maaf, lalu kita sebagai masyarakat adat, sebagai saudara sudah sepatutnya saling memaafkan, jadikan seorang Seno aji dan lainnya diberi pelajaran dengan cara memberikan pendidikan adat agar ia mencintai adat budaya Lampung. Dimana langit dipijak disitu langit dijunjung," paparnya.
"Ketika sudah saling memaafkan, menjadi saudara, dan membuat orang yg tidak mengerti adat dan tidak mencintai adat akhirnya menjunjung adat budaya Lampung, " tutupnya. (*).

Posting Komentar